Teropongdaily, Medan-Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran tidak akan menyentuh sektor pendidikan. Namun, data justru menunjukkan sebaliknya. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, anggaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dipangkas sebesar Rp22,5 triliun, atau sekitar 39% dari total pagu. Ini bukan sekadar efisiensi, tapi bisa menjadi potensi kemunduran.
Konstitusi dengan tegas mewajibkan alokasi 20% APBN untuk pendidikan. Meskipun pemerintah mengklaim angka ini tetap terpenuhi secara formal, realisasinya tersebar di berbagai kementerian melalui belanja fungsi pendidikan. Ketika anggaran kementerian inti dipotong drastis, efektivitas penggunaan anggaran menjadi tanda tanya besar.
Pemangkasan ini ironis, mengingat kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal. Hasil Programme for International (PISA) menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia berada di peringkat rendah. Dengan kondisi ini, pendidikan seharusnya diperkuat, bukan dikurangi.
Pemerintah memang meluncurkan program seperti “Sekolah Rakyat” untuk pemerataan pendidikan. Namun, tanpa dukungan anggaran yang memadai, program ini berisiko menjadi sekadar jargon tanpa dampak nyata. Pendidikan tidak bisa bergantung pada proyek-proyek populis yang tidak berkelanjutan.
Guru Besar FEB UGM, Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A., mengingatkan bahwa pemangkasan anggaran pendidikan bisa mengancam kualitas sumber daya manusia (SDM) dan berisiko menciptakan kontraksi ekonomi jangka panjang. Pendidikan bukan hanya soal mencetak gelar, tetapi membentuk masyarakat produktif.
Efisiensi anggaran memang diperlukan, tetapi tidak dengan mengorbankan sektor fundamental seperti pendidikan. Negara-negara maju bukan berhasil karena berhemat dalam pendidikan, melainkan karena berani berinvestasi besar. Jika Indonesia sungguh ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045, maka pendidikan harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.
Tr: Raihan Aqiila






















