Pemerintah Jepang dikabarkan menggelontorkan dana besar hingga Rp565 triliun untuk menahan pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat. Kebijakan tersebut menjadi sorotan dunia karena menunjukkan keseriusan Jepang dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Hastina Febriaty, S.E., M.Si., menilai langkah pemerintah Jepang dilakukan untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas terhadap masyarakat.
“Langkah pemerintah Jepang menggelontorkan dana besar untuk menahan pelemahan yen menunjukkan bahwa stabilitas mata uang sangat penting bagi keberlangsungan ekonomi negara. Jika nilai tukar terus melemah, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang impor dan biaya hidup,” ujarnya, Senin (25/05/2026).
Menurut Hastina, pelemahan yen terjadi karena kuatnya dolar AS dan tingginya suku bunga Amerika Serikat yang membuat investor lebih tertarik menyimpan aset dalam bentuk dolar. Kondisi tersebut memberi tekanan besar terhadap mata uang Jepang.
“Kondisi ini membuktikan bahwa negara maju seperti Jepang pun tetap bisa menghadapi tekanan ekonomi global. Ketika dolar AS menguat, banyak mata uang negara lain ikut tertekan sehingga pemerintah harus mengambil kebijakan cepat agar kondisi ekonomi tidak semakin memburuk,” katanya.
Ia menjelaskan, intervensi yang dilakukan pemerintah Jepang dan Bank of Japan (BOJ) merupakan upaya menjaga daya beli masyarakat serta mengurangi risiko inflasi akibat mahalnya barang impor. Jepang sendiri masih bergantung pada impor energi dan sejumlah bahan baku industri.
Selain menjadi isu ekonomi internasional, kondisi tersebut juga menarik perhatian mahasiswa. Mahasiswi Program Studi Manajemen semester VI UMSU, Ratu Nikita, mengaku baru memahami pentingnya stabilitas mata uang setelah mengikuti perkembangan yen Jepang di media sosial.
“Saya jadi sadar kalau menjaga stabilitas ekonomi itu tidak mudah, bahkan untuk negara sebesar Jepang. Pemerintah mereka langsung mengambil langkah untuk menyelamatkan mata uangnya agar dampaknya tidak semakin besar ke masyarakat,” ujarnya.
Ratu menilai langkah Jepang dapat menjadi pelajaran bahwa setiap negara harus siap menghadapi gejolak ekonomi global dengan kebijakan yang cepat dan terukur.
“Menurut saya, isu pelemahan yen ini membuka pandangan mahasiswa bahwa ekonomi global sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Negara maju saja bisa mengalami tekanan ekonomi, jadi generasi muda juga perlu memahami kondisi ekonomi dunia agar lebih siap menghadapi perubahan,” tuturnya.
Kebijakan Jepang menyelamatkan yen kini menjadi perhatian banyak pihak karena dinilai bukan hanya soal menjaga nilai mata uang, tetapi juga mempertahankan kestabilan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Tr: Rifky





















