Aparat yang seharusnya menjaga, malah memukul. Pejabat yang seharusnya melindungi, malah menindas. Mereka yang mengaku wakil rakyat justru mengkhianati rakyat. Sampai kapan kita membiarkan ini terus terjadi?
Kantor berita diteror kepala babi. Jurnalis diancam. Rakyat dipukul dan ditembaki gas air mata. Dan para pejabat? Bukannya mengecam, mereka justru bercanda. Kepala Kantor Komunikasi Presiden dengan enteng bilang, “Udah, dimasak aja.” Sebuah lelucon murahan di atas tragedi yang nyata.
Ketika negara tak lagi melindungi rakyatnya, siapa yang bisa kita harapkan? Jawabannya hanya satu: kita sendiri. Masyarakat sipil harus saling menjaga, karena jelas pemerintah tidak peduli. Mereka tak takut pada kemarahan kita, karena mereka pikir kita akan terus diam.
Lihat bagaimana Undang-Undang TNI dipaksakan meski gelombang protes menggema. Perhatikan bagaimana pejabat merendahkan rakyat dengan kata-kata kasar, seolah kritik hanya gonggongan anjing. Mereka tak lagi takut pada sanksi sosial, karena merasa terlalu kuat untuk dijatuhkan.
Besok, banyak yang merayakan kemenangan. Tapi kemenangan macam apa jika kita masih dibelenggu ketakutan? Jika kezaliman terus dibiarkan, jika suara terus dibungkam, lalu apa artinya semua itu?
Kita tidak akan membiarkan ini berlanjut. Kezaliman ini harus diputus. Bukan dengan diam, bukan dengan tunduk, tapi dengan melawan.
Mereka pikir kita akan lupa. Mereka pikir kita akan menyerah. Tapi kita bukan generasi yang bisa dibungkam. Jika mereka terus merampas, kita akan merebut kembali.
Tr : Intan Nurani






















