Teropongdaily, Medan-Aceh kembali mengirimkan tanda darurat. Bukan melalui sirene atau peringatan resmi pemerintah, tetapi lewat bendera-bendera putih yang berkibar di sepanjang jalan. Simbol universal penyerahan diri itu kini berubah makna menjadi pekikan harapan ketika warga Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Utara, hingga Bireuen menancapkannya di pinggir jalan dan jembatan.
Gerakan spontan ini menunjukkan betapa berat kondisi masyarakat pasca banjir. Ketika bendera putih dikibarkan, itu menandakan situasi sudah melampaui kemampuan warga dan pemerintah daerah. Dalam kondisi seperti ini, tuntutan masyarakat agar dunia internasional ikut turun tangan menjadi sinyal bahwa mereka merasa diabaikan oleh negara sendiri.
Dilansir dari Detik.com, seorang warga bernama Hanafi berharap NGO dan negara-negara anggota PBB dapat membantu mereka. Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah, karena warga seharusnya tidak perlu sampai āmemanggil duniaā untuk mendapatkan uluran tangan. Dalam situasi bencana, negara semestinya hadir lebih cepat, lebih nyata, dan lebih sigap.
Pengibaran bendera putih di Aceh bukan sekadar aksi simbolik; itu adalah komunikasi darurat yang menunjukkan ketidakberdayaan dan keputusasaan. Pesan moralnya jelas: penanganan bencana tidak boleh terhambat oleh birokrasi lamban atau koordinasi yang lemah.
Ironisnya, di era teknologi informasi dan klaim kesiapan pemerintah menghadapi bencana, kenyataan bahwa masyarakat masih harus mengibarkan bendera putih untuk menarik perhatian adalah cermin kegagalan yang menyakitkan.
Warga Aceh tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya membutuhkan rasa aman, bantuan nyata, dan kehadiran negara. Sebelum bendera-bendera putih itu memudar dihembus angin, pemerintah pusat perlu hadir bukan sekadar sebagai penguasa, tetapi sebagai pelindung.
Jika simbol darurat ini terus diabaikan, bukan hanya Aceh yang terluka, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara. Bencana alam memang tidak dapat dicegah, tetapi abainya respons adalah pilihan manusia. Dan pilihan itulah yang kini dipertanyakan oleh warga yang nasibnya bergantung pada sehelai bendera putih.
Tr: De Ajeng Nurul Maharani





















