• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Yayasan STIKes Indah Medan Resmi Diserahkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah

Yayasan STIKes Indah Medan Resmi Diserahkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah

6 August 2026
UMSU Perkuat Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Lewat Aksi Nyata

UMSU Perkuat Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Lewat Aksi Nyata

6 August 2026

Mengenal Londo Ireng

5 August 2026
Talkshow dan Seminar FISIP UMSU Bahas Pemanfaatan Media Sosial dalam Perspektif Hukum

Talkshow dan Seminar FISIP UMSU Bahas Pemanfaatan Media Sosial dalam Perspektif Hukum

6 August 2026
Pelan Tapi Sampai

Pelan Tapi Sampai

4 August 2026
Mahasiswi FKIP UMSU Juara 1 Akting Festival Sastra Museum

Mahasiswi FKIP UMSU Juara 1 Akting Festival Sastra Museum

4 August 2026

Prabowo Resmi Bentuk Universitas Republik Indonesia

6 August 2026
Pelantikan dan Upgrading HIMAMEN UMSU Awali Kepengurusan Periode 2026–2027

Pelantikan dan Upgrading HIMAMEN UMSU Awali Kepengurusan Periode 2026–2027

6 August 2026
Londo Ireng dan Suara Kritis yang Dicurigai

Londo Ireng dan Suara Kritis yang Dicurigai

6 August 2026
Mahasiswa UMSU Soroti Pentingnya Etika Komunimasi Pejabat Publik di Era Digital

Mahasiswa UMSU Soroti Pentingnya Etika Komunimasi Pejabat Publik di Era Digital

31 July 2026
Akademisi UMSU Tekankan Literasi Digital Berbasis Etika

Akademisi UMSU Tekankan Literasi Digital Berbasis Etika

31 July 2026
UMSU Sosialisasikan SatuMu, Perkuat Integrasi Data Warga Muhammadiyah

UMSU Sosialisasikan SatuMu, Perkuat Integrasi Data Warga Muhammadiyah

28 July 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Friday, 7 August 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

by REDAKSI TEROPONG
4 February 2026
in Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?
0
SHARES
73
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teropongdaily, Medan-Di benak banyak orang, seni identik dengan keindahan, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Lukisan yang digantung di galeri, patung dipajang di museum, dan karya dilelang dengan tepuk tangan. Namun, di balik gemerlap ruang pamer dan harga fantastis yang kadang tak masuk akal, ada sisi gelap yang jarang dibicarakan: seni kerap dijadikan alat pencucian uang.

Kedengarannya ironis. Bagaimana mungkin sesuatu yang lahir dari kreativitas justru menjadi kendaraan kejahatan finansial? Justru karena sifatnya yang “subjektif”, pasar seni menjadi celah yang sangat empuk. Tidak ada standar harga pasti untuk sebuah karya. Satu lukisan bisa dihargai lima juta hari ini, lalu lima miliar esok hari, tanpa ada rumus objektif yang bisa membantahnya.

RelatedPosts

Londo Ireng dan Suara Kritis yang Dicurigai

Mengapa Kita Sulit Melahirkan Banyak Entrepreneur Muda?

Tambang Ilegal Subur, Negara Terus Kebobolan

Di sinilah logika pencucian uang bekerja. Pelaku kejahatan finansial dalam bentuk korupsi, narkoba, atau penggelapan pajak, membutuhkan cara untuk mengubah uang ilegal menjadi tampak sah. Membeli karya seni mahal menjadi solusi praktis. Transaksi terlihat legal, berbentuk “koleksi seni”, dan nilainya fleksibel. Bahkan menurut laporan Financial Action Task Force (FATF), pasar seni global termasuk sektor berisiko tinggi untuk money laundering karena minim transparansi identitas pembeli dan penjual.

Selain harga yang elastis, sistem transaksi seni juga cenderung tertutup. Banyak pembelian dilakukan secara privat, lewat galeri eksklusif atau lelang tertutup. Identitas kolektor sering dirahasiakan. Bandingkan dengan perbankan yang ketat Know Your Customer (KYC), sementara pasar seni relatif longgar. Celah ini membuat perputaran dana besar sulit dilacak aparat pajak atau penegak hukum.

Lebih jauh lagi, karya seni juga berfungsi sebagai “penyimpan nilai”. Ia mudah dipindahkan lintas negara, tidak mencurigakan di bandara, dan nilainya bisa terus meningkat. Sebuah lukisan kecil bisa mewakili miliaran rupiah, lebih praktis daripada membawa uang tunai atau emas. Dalam konteks ini, seni bukan lagi ekspresi budaya, melainkan komoditas finansial yang mirip deposito rahasia.

Namun menyalahkan seni sepenuhnya jelas keliru. Yang bermasalah bukan seninya, melainkan ekosistem pasarnya. Ketika regulasi lemah, transparansi minim, dan pengawasan pajak longgar, ruang abu-abu itu akan dimanfaatkan. Dunia seni akhirnya terseret menjadi “mesin cuci” bagi uang kotor, meski para seniman sendiri tak pernah berniat demikian.

Ironisnya, praktik ini justru merugikan seniman tulen. Harga karya menjadi tidak wajar, pasar dimanipulasi spekulan, dan apresiasi bergeser dari nilai artistik menjadi nilai investasi. Seni kehilangan makna kulturalnya dan berubah menjadi sekadar alat transaksi. Publik pun makin skeptis: mahal karena kualitas, atau mahal karena kepentingan tersembunyi?

Karena itu, solusi tidak cukup dengan moralitas, tetapi memerlukan sistem. Pemerintah perlu memperketat regulasi pasar seni, misalnya pencatatan identitas pembeli, pelaporan transaksi bernilai besar, dan pengawasan pajak seperti di sektor properti atau perbankan. Transparansi galeri dan rumah lelang juga menjadi kunci. Beberapa negara Eropa bahkan mulai memasukkan pasar seni dalam rezim anti pencucian uang.

Pada akhirnya, seni seharusnya menjadi ruang imajinasi, bukan tempat menyembunyikan kejahatan. Ketika lukisan lebih sering dibicarakan karena nominalnya ketimbang maknanya, kita patut bertanya: apakah kita masih menikmati seni, atau hanya menyaksikan angka-angka berpindah tangan?

Jika seni terus dibiarkan tanpa pengawasan, ia akan tetap menjadi alat yang nyaman bagi uang gelap. Tetapi jika transparansi ditegakkan, seni bisa kembali pada hakikatnya, yaitu sebagai cermin jiwa manusia, bukan mesin pencuci dosa finansial.

 

Tr: Rifky Haris

Sumber Foto: tempo.co

Tags: #Opini #Seni #MesinCuciUang #Mahasiswa #Medan #Teropongdaily
Previous Post

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

Next Post

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

Related Posts

Londo Ireng dan Suara Kritis yang Dicurigai

Londo Ireng dan Suara Kritis yang Dicurigai

by REDAKSI TEROPONG
6 August 2026
0

Kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, ketika kritik dibalas dengan pelabelan, perhatian publik dapat bergeser dari persoalan yang...

Mengapa Kita Sulit Melahirkan Banyak Entrepreneur Muda?

Mengapa Kita Sulit Melahirkan Banyak Entrepreneur Muda?

by REDAKSI TEROPONG
7 July 2026
0

Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, bonus demografi, kekayaan sumber daya...

Tambang Ilegal Subur, Negara Terus Kebobolan

Tambang Ilegal Subur, Negara Terus Kebobolan

by REDAKSI TEROPONG
31 May 2026
0

Sektor pertambangan selama ini menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sering disebut...

Museum Marsinah dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang

Museum Marsinah dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang

by REDAKSI TEROPONG
19 May 2026
0

Museum sering dianggap sebagai tempat menyimpan benda-benda lama yang membosankan. Padahal, museum memiliki fungsi penting sebagai ruang penyimpan ingatan kolektif...

Ketergantungan Gadget, Matinya Daya Pikir Kritis

Ketergantungan Gadget, Matinya Daya Pikir Kritis

by REDAKSI TEROPONG
30 April 2026
0

Di era digital saat ini, gadget telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap aktivitas bergantung pada...

Magang: Jembatan Karier atau Kedok Eksploitasi Tenaga Kerja?

Magang: Jembatan Karier atau Kedok Eksploitasi Tenaga Kerja?

by REDAKSI TEROPONG
30 April 2026
0

Narasi bahwa magang adalah cara terbaik untuk mencari pengalaman kerja sebelum lulus masih kuat di lingkungan kampus. Kalimat seperti “tidak...

Next Post
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Yudisium FIKTI UMSU Periode II, Lulusan Diingatkan Pentingnya Etika Digital

Yudisium FIKTI UMSU Periode II, Lulusan Diingatkan Pentingnya Etika Digital

9 months ago
Sendiri

Sendiri

2 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 6 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Yayasan STIKes Indah Medan Resmi Diserahkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah 6 August 2026
    • UMSU Perkuat Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Lewat Aksi Nyata 6 August 2026
    • Mengenal Londo Ireng 5 August 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In