• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Penegakan Hukum Berkeadilan Tak Cukup Dilihat dari Satu Sudut Pandang

Penegakan Hukum Berkeadilan Tak Cukup Dilihat dari Satu Sudut Pandang

6 November 2026
UID Sumut Dorong Siswa dan Mahasiswa Jadi Inovator Kendaraan Listrik

UID Sumut Dorong Siswa dan Mahasiswa Jadi Inovator Kendaraan Listrik

6 November 2026
Wakil Dekan I Fatek UMSU Ajak Mahasiwa Mencintai Ilmu Energi

Wakil Dekan I Fatek UMSU Ajak Mahasiwa Mencintai Ilmu Energi

6 November 2026
Akademisi UMSU Soroti Dampak Menjelang Penerapan Pajak Digital 9 November 2026

Akademisi UMSU Soroti Dampak Menjelang Penerapan Pajak Digital 9 November 2026

5 November 2026
Mahasiswa UMSU Kunjungi TVRI, KPK dan KOMPAK Sumut Ingatkan Bahaya Korupsi

Mahasiswa UMSU Kunjungi TVRI, KPK dan KOMPAK Sumut Ingatkan Bahaya Korupsi

5 November 2026
Bangun Generasi Kreatif, UMSU Hadirkan Kelas Kreasi Bersama Adobe Express

Bangun Generasi Kreatif, UMSU Hadirkan Kelas Kreasi Bersama Adobe Express

5 November 2026
Yudha Keling Ajak Mahasiswa Mulai Investasi dan Belajar Mengelola Keuangan

Yudha Keling Ajak Mahasiswa Mulai Investasi dan Belajar Mengelola Keuangan

5 November 2026
Wagub Sumut Buka Musda VI IJTI Sumut, Jurnalis TV Harus Perkuat Profesionalisme

Wagub Sumut Buka Musda VI IJTI Sumut, Jurnalis TV Harus Perkuat Profesionalisme

4 November 2026
Ketua IJTI Sumut: Jurnalis TV Harus Adaptif di Era Multiplatform

Ketua IJTI Sumut: Jurnalis TV Harus Adaptif di Era Multiplatform

4 November 2026
Skrining Kesehatan Mahasiswa UMSU Temukan Sejumlah Faktor Risiko

Skrining Kesehatan Mahasiswa UMSU Temukan Sejumlah Faktor Risiko

4 November 2026
Talkshow Investing Beyond the Punchline Dorong Mahasiswa Pahami Investasi

Talkshow Investing Beyond the Punchline Dorong Mahasiswa Pahami Investasi

4 November 2026
Yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

Yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

3 November 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Friday, 6 November 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

by REDAKSI TEROPONG
4 February 2026
in Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?
0
SHARES
93
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teropongdaily, Medan-Di benak banyak orang, seni identik dengan keindahan, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Lukisan yang digantung di galeri, patung dipajang di museum, dan karya dilelang dengan tepuk tangan. Namun, di balik gemerlap ruang pamer dan harga fantastis yang kadang tak masuk akal, ada sisi gelap yang jarang dibicarakan: seni kerap dijadikan alat pencucian uang.

Kedengarannya ironis. Bagaimana mungkin sesuatu yang lahir dari kreativitas justru menjadi kendaraan kejahatan finansial? Justru karena sifatnya yang “subjektif”, pasar seni menjadi celah yang sangat empuk. Tidak ada standar harga pasti untuk sebuah karya. Satu lukisan bisa dihargai lima juta hari ini, lalu lima miliar esok hari, tanpa ada rumus objektif yang bisa membantahnya.

RelatedPosts

Surplus Perdagangan Indonesia: Benarkah Mencerminkan Penguatan Ekonomi Nasional?

Sah di Aturan, Kontroversial di Publik

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Apa yang Perlu Diketahui Penjual?

Di sinilah logika pencucian uang bekerja. Pelaku kejahatan finansial dalam bentuk korupsi, narkoba, atau penggelapan pajak, membutuhkan cara untuk mengubah uang ilegal menjadi tampak sah. Membeli karya seni mahal menjadi solusi praktis. Transaksi terlihat legal, berbentuk “koleksi seni”, dan nilainya fleksibel. Bahkan menurut laporan Financial Action Task Force (FATF), pasar seni global termasuk sektor berisiko tinggi untuk money laundering karena minim transparansi identitas pembeli dan penjual.

Selain harga yang elastis, sistem transaksi seni juga cenderung tertutup. Banyak pembelian dilakukan secara privat, lewat galeri eksklusif atau lelang tertutup. Identitas kolektor sering dirahasiakan. Bandingkan dengan perbankan yang ketat Know Your Customer (KYC), sementara pasar seni relatif longgar. Celah ini membuat perputaran dana besar sulit dilacak aparat pajak atau penegak hukum.

Lebih jauh lagi, karya seni juga berfungsi sebagai “penyimpan nilai”. Ia mudah dipindahkan lintas negara, tidak mencurigakan di bandara, dan nilainya bisa terus meningkat. Sebuah lukisan kecil bisa mewakili miliaran rupiah, lebih praktis daripada membawa uang tunai atau emas. Dalam konteks ini, seni bukan lagi ekspresi budaya, melainkan komoditas finansial yang mirip deposito rahasia.

Namun menyalahkan seni sepenuhnya jelas keliru. Yang bermasalah bukan seninya, melainkan ekosistem pasarnya. Ketika regulasi lemah, transparansi minim, dan pengawasan pajak longgar, ruang abu-abu itu akan dimanfaatkan. Dunia seni akhirnya terseret menjadi “mesin cuci” bagi uang kotor, meski para seniman sendiri tak pernah berniat demikian.

Ironisnya, praktik ini justru merugikan seniman tulen. Harga karya menjadi tidak wajar, pasar dimanipulasi spekulan, dan apresiasi bergeser dari nilai artistik menjadi nilai investasi. Seni kehilangan makna kulturalnya dan berubah menjadi sekadar alat transaksi. Publik pun makin skeptis: mahal karena kualitas, atau mahal karena kepentingan tersembunyi?

Karena itu, solusi tidak cukup dengan moralitas, tetapi memerlukan sistem. Pemerintah perlu memperketat regulasi pasar seni, misalnya pencatatan identitas pembeli, pelaporan transaksi bernilai besar, dan pengawasan pajak seperti di sektor properti atau perbankan. Transparansi galeri dan rumah lelang juga menjadi kunci. Beberapa negara Eropa bahkan mulai memasukkan pasar seni dalam rezim anti pencucian uang.

Pada akhirnya, seni seharusnya menjadi ruang imajinasi, bukan tempat menyembunyikan kejahatan. Ketika lukisan lebih sering dibicarakan karena nominalnya ketimbang maknanya, kita patut bertanya: apakah kita masih menikmati seni, atau hanya menyaksikan angka-angka berpindah tangan?

Jika seni terus dibiarkan tanpa pengawasan, ia akan tetap menjadi alat yang nyaman bagi uang gelap. Tetapi jika transparansi ditegakkan, seni bisa kembali pada hakikatnya, yaitu sebagai cermin jiwa manusia, bukan mesin pencuci dosa finansial.

 

Tr: Rifky Haris

Sumber Foto: tempo.co

Tags: #Opini #Seni #MesinCuciUang #Mahasiswa #Medan #Teropongdaily
Previous Post

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

Next Post

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

Related Posts

Surplus Perdagangan Indonesia: Benarkah Mencerminkan Penguatan Ekonomi Nasional?

Surplus Perdagangan Indonesia: Benarkah Mencerminkan Penguatan Ekonomi Nasional?

by REDAKSI TEROPONG
3 November 2026
0

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor mencapai...

Sah di Aturan, Kontroversial di Publik

Sah di Aturan, Kontroversial di Publik

by REDAKSI TEROPONG
8 October 2026
0

Pergantian antarwaktu (PAW) pada dasarnya merupakan mekanisme untuk mengisi kursi DPR yang kosong sebelum masa jabatan berakhir. Namun, ketika kursi...

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Apa yang Perlu Diketahui Penjual?

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Apa yang Perlu Diketahui Penjual?

by REDAKSI TEROPONG
4 October 2026
0

Marketplace telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dalam melakukan jual beli. Tidak hanya untuk berbelanja, platform digital juga menjadi tempat...

Budaya Scroll dan Tantangan Membaca Mahasiswa

Budaya Scroll dan Tantangan Membaca Mahasiswa

by REDAKSI TEROPONG
23 September 2026
0

Kebiasaan scroll membuat mahasiswa terbiasa menerima informasi dalam bentuk yang singkat dan cepat. Video berdurasi pendek, rangkuman, serta konten dengan...

Islam Ala Prabowo dan Narasi Agama dalam Kekuasaan

Islam Ala Prabowo dan Narasi Agama dalam Kekuasaan

by REDAKSI TEROPONG
11 September 2026
0

Agama memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika agama kemudian dikaitkan dengan sosok seorang pemimpin politik, pembahasannya tidak hanya...

Ketika Hutan Terbakar, Satwa Kehilangan Rumah

Ketika Hutan Terbakar, Satwa Kehilangan Rumah

by REDAKSI TEROPONG
5 September 2026
0

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menunjukkan bahwa yang menjadi korban bukan hanya manusia. Di balik kepulan asap dan...

Next Post
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Kajian Buka Puasa Bersama, Umat Islam Harus Memimpin Peradaban

7 years ago
Manfaat Tersenyum Bagi Kesehatan

Manfaat Tersenyum Bagi Kesehatan

5 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 6 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Penegakan Hukum Berkeadilan Tak Cukup Dilihat dari Satu Sudut Pandang 5 November 2026
    • UID Sumut Dorong Siswa dan Mahasiswa Jadi Inovator Kendaraan Listrik 5 November 2026
    • Wakil Dekan I Fatek UMSU Ajak Mahasiwa Mencintai Ilmu Energi 5 November 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In