Teropongdaily, Medan-Isu superflu belakangan ramai diperbincangkan dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. M. Alif Maulana Syafrin Lubis, M.Ked(PD), Sp.PD, menegaskan bahwa superflu merupakan sebutan populer untuk varian virus influenza yang lebih agresif.
Menurut dr. Alif, superflu merujuk pada influenza tipe A, khususnya Influenza A H3N2 subclade K, yang dilaporkan mengalami peningkatan sejak Agustus 2025 dan menyebabkan lonjakan kasus flu berat di sejumlah negara.
“Superflu bukan penyakit baru. Ini merupakan varian influenza yang gejalanya bisa lebih berat, terutama pada kelompok tertentu, namun secara umum masih dapat dikendalikan,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (08/01/2026).
Secara klinis, gejala superflu tidak jauh berbeda dengan influenza musiman, seperti demam, sakit kepala, kelelahan, pilek, hidung tersumbat, dan batuk. Namun pada beberapa kasus, gejala dapat berkembang lebih berat dan berisiko menimbulkan komplikasi seperti pneumonia.
“Yang perlu diwaspadai adalah demam tinggi yang tidak membaik, batuk berat, nyeri kepala hebat, hingga sesak napas. Jika dalam tiga hari kondisi tidak membaik atau muncul sesak, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.
dr. Alif menyebutkan, superflu dapat menyerang siapa saja, namun kelompok paling berisiko mengalami kondisi berat adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes dan HIV.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik berlebihan. Hingga kini, belum ada data yang menunjukkan superflu sebagai wabah tak terkendali atau memiliki tingkat kematian tinggi.
“Yang terpenting adalah tetap waspada, bukan panik. Influenza ini bisa dicegah dan dikendalikan,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, mencuci tangan secara rutin, serta menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian. Vaksin influenza juga disarankan, terutama bagi kelompok rentan, untuk menurunkan risiko gejala berat.
“Vaksin bukan membuat kebal sepenuhnya, tetapi sangat membantu mengurangi keparahan,” pungkasnya.
Tr: Anggi Nihma
Sumber Foto: detik.com





















