Teropongdaily, Medan-Belakangan ini nilai tukar Rupiah kembali melemah, dan hal ini menjadi perhatian banyak pihak. Ketika Rupiah turun, dampaknya biasanya cepat terasa pada harga barang, biaya produksi, hingga kebutuhan sehari-hari. Bahkan bagi masyarakat yang tidak mengikuti berita ekonomi sekalipun, perubahan nilai tukar tetap berpengaruh langsung terhadap kehidupan mereka.
Peneliti Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global. USD/IDR menutup perdagangan hari ini dalam kondisi melemah, terutama karena tekanan eksternal yang kembali meningkat, sementara dukungan domestik masih terbatas.
Ia menambahkan bahwa situasi global yang tidak stabil membuat pasar finansial dunia mudah berubah, dan negara berkembang seperti Indonesia sering kali ikut terdampak.
Dilansir dari Antaranews.com, analis ICDX lainnya, Yoga Aji, juga menegaskan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh sentimen global. Menurutnya, pelaku pasar saat ini cenderung menghindari aset berisiko seperti Rupiah dan kembali memilih dolar AS sebagai aset aman.
Pernyataan Yoga Aji menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya tidak sedang mengalami masalah mendalam. Namun, karena investor global cenderung “main aman”, Rupiah ikut terdampak. Artinya, pelemahan ini lebih mencerminkan dinamika ekonomi dunia yang tidak stabil, bukan kelemahan fundamental Indonesia.
Data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada 28 November juga memperlihatkan pelemahan Rupiah yang berada di level Rp16.661 per dolar AS, turun dari sebelumnya Rp16.644 per dolar AS. Meski pergerakannya tipis, tren melemah ini patut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada berbagai sektor.
Jika kondisi ini berlangsung lama, pelemahan Rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor dan harga produksi. Pada akhirnya, beban tersebut akan dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang. Ketergantungan terhadap sentimen global membuat Rupiah lebih rentan bergejolak dalam situasi penuh ketidakpastian.
Sebagai solusi, Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik. Upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan cadangan devisa, mendorong ekspor bernilai tambah, menarik investasi jangka panjang, serta menjaga komunikasi kebijakan yang jelas. Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat lebih siap menghadapi dinamika global dan menjaga stabilitas Rupiah.
Tr: Athira Sinaga






















