Alam yang dulu kita kenal lewat keindahannya,
Lukisan sunyi yang selalu berhasil menenangkan,
Kini perlahan berubah wajah.
Di balik biru langit yang tak lagi jernih,
Ada luka-luka yang tak terucap.
Ia sedang dilanda kerusakan.
Retaknya terasa dari hutan yang menipis,
Dari sungai yang kehilangan kejernihannya,
Dari tanah yang lelah menahan jejak kita.
Entah siapa yang salah,
Atau mungkin kita semua sedang pura-pura lupa.
Alam tak menunjuk, tak juga menuntut,
Ia hanya menunggu,
Apakah kita kembali memperbaiki,
Atau membiarkannya terus merintih
dalam diam yang makin panjang.
Tr: Gustriani Ningsih






















