Detik pertama yang membuat dada bergemuruh,
Senyumanmu datang tanpa aba-aba,
Mengisi ruang hati yang lama sunyi,
Ada debar halus yang tak pernah aku kenali.
Dalam tatap yang tak sengaja bertemu,
Ada bisik lirih dari dalam kalbu,
Seakan membuka pintu yang lama terkunci,
Menggugah rasa yang nyaris tak berani bangkit.
Tatapan itu, meski tanpa suara,
Seolah bicara lebih dari seribu kata,
Menorehkan tanya, harap, dan ketertarikan,
Dalam diam yang begitu memikat.
Meski suara-suara di luar mulai berdengung,
Aku memilih mendengar yang paling jujur,
Suara hati yang diam-diam tumbuh,
Yang tak ingin sekadar lewat lalu hilang.
Dari langkah kecil ini aku mulai mengerti,
Bahwa jatuh hati tak perlu alasan pasti,
Bukan tentang siapa yang melihat atau menilai,
Tapi tentang keberanian untuk merasa dan percaya.
Tr : Anastasyai






















