Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar International Visiting Lecturer bertema Research Methods: Issues and Challenges in the Digital Era di Aula FAI UMSU, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Halim Mad Lazim dari Universiti Utara Malaysia. Ia membahas perubahan proses penelitian akibat perkembangan teknologi digital, termasuk peluang dan tantangan dalam penggunaan data.
“Data digital dapat memperluas peluang penelitian melalui akses yang lebih cepat, jumlah data yang lebih besar, dan pengamatan secara langsung. Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis membuat bukti penelitian menjadi dapat dipercaya,” jelas Halim.
Halim menekankan pentingnya memeriksa kualitas data sebelum digunakan. Pemeriksaan meliputi sumber, kelengkapan, keterwakilan responden, dan kesesuaian data dengan pertanyaan penelitian.
“Peneliti harus memastikan siapa yang mengumpulkan data, untuk tujuan apa data tersebut dikumpulkan, dan siapa saja yang tidak terwakili di dalamnya. Data yang jumlahnya besar tetap bisa memiliki bias, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan kebutuhan penelitian,” paparnya.
Selain kualitas data, materi tersebut membahas perlindungan privasi dan etika penelitian. Peneliti perlu menjaga kerahasiaan identitas partisipan, memperoleh persetujuan, serta menyimpan data secara aman.
“Peneliti perlu menjelaskan bagaimana data digunakan, membatasi informasi pribadi yang dikumpulkan, dan memastikan data partisipan tidak disalahgunakan. Tanggung jawab etis tetap berlaku meskipun data diperoleh melalui platform digital,” ungkapnya.
Halim turut membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu transkripsi, penerjemahan, dan analisis data. Namun, hasil AI tetap perlu diperiksa karena berpotensi mengandung kesalahan dan bias.
“AI seharusnya membantu pekerjaan peneliti, bukan menggantikan penilaian manusia. Setiap informasi, kutipan, dan referensi yang dihasilkan perlu diverifikasi agar hasil penelitian tetap akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.
tr: Hana dan Raifi





















