Teropongdaily, Medan-Sudan, negara di timur laut Afrika yang membentang seluas 1,9 juta km², kini menjadi salah satu wilayah dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Negara yang dulunya dikenal kaya akan sumber daya alam, termasuk emas, kini porak-poranda akibat perang saudara yang berkepanjangan.
Secara geografis, Sudan berbatasan dengan tujuh negara dan Laut Merah. Sungai Nil yang mengalir di dalamnya menjadikan Sudan memiliki posisi strategis bagi banyak kekuatan asing. Namun, di balik nilai strategis itu, rakyat Sudan justru terjebak dalam lingkaran kekerasan dan kemiskinan ekstrem.
Konflik di Sudan bermula pada April 2023, ketika terjadi bentrokan antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF), dua kekuatan militer yang sebelumnya bersekutu tetapi kini saling menyerang demi perebutan kekuasaan. Pertikaian tersebut dengan cepat meluas dan menghancurkan kehidupan jutaan warga sipil.
Menurut laporan BBC News Indonesia, perang saudara ini telah menyebabkan lebih dari 150.000 orang tewas, sementara sekitar 12 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.
Kekhawatiran terbesar kini tertuju pada wilayah Darfur Barat, terutama di Kota El-Fasher, yang baru-baru ini direbut oleh RSF. Banyak warga meyakini kelompok RSF dan sekutunya tengah melakukan kampanye pembersihan etnis terhadap kelompok Massalit dan komunitas non-Arab lainnya.
Pada Maret 2024, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) melaporkan adanya kekerasan seksual brutal terhadap anak-anak, bahkan terhadap balita berusia satu tahun. Beberapa anak dilaporkan mencoba mengakhiri hidup akibat trauma mendalam.
Meski tim penyelidik PBB belum secara resmi menyimpulkan bahwa genosida telah terjadi, Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025 menetapkan bahwa RSF dan milisi sekutunya telah melakukan genosida.
Menteri Luar Negeri AS saat itu, Antony Blinken, menyebut kelompok tersebut secara sistematis “membunuh pria dan anak laki-laki, bahkan bayi, berdasarkan etnis, serta menargetkan perempuan dan anak perempuan untuk pemerkosaan dan bentuk kekerasan lainnya”.
Selain kekerasan bersenjata, RSF juga dilaporkan menahan pasokan makanan dan menargetkan warga sipil yang berusaha melarikan diri dari konflik. Situasi ini memperburuk kondisi kelaparan dan penderitaan masyarakat yang telah kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman.
Kini, Sudan menghadapi masa depan yang suram. Di tengah kehancuran dan penderitaan, jutaan warga masih menunggu perhatian dunia bukan hanya simpati, tetapi juga tindakan nyata untuk mengakhiri perang yang telah merenggut begitu banyak nyawa.
Tr: Intan Nur’aini






















