Teropongdaily, Medan- “Karena orang Melayu tidak suka permusuhan, walaupun sakit hatinya mereka tetap menyajikan yang terbaik,” ujar seorang wanita pendiri usaha Kue Rasidah di Kota Medan saat menjelaskan filosofi rasa manis pada Kue Rasidah.
Kesultanan Deli yang sudah berdiri dari tahun 1632 sampai saat ini, tidak lepas dari Kota Medan yang merupakan asal mula ras Melayu. Meski begitu, khas makanan Melayu tidak terlalu dikenal oleh masyakat. Salah satunya Kue Rasidah yang kian tak didengar oleh masyarakat saat ini.
“Rasidah, seorang rakyat Melayu biasa yang menyiapkan kue untuk pesta pernikahan seorang Raja yang ia sukai, begitulah awal mula adanya Kue Rasidah,” ujar wanita dua anak yang bernama Siska.
Siska Hasibuan juga seorang dosen di salah satu kampus Negeri Islam di Kota Medan ini mendirikan usaha kecil Mumubutikue yang menjual Kue Rasidah. Saat kudatangi tempat usaha milik wanita itu yang letaknya tepat di pinggir jalan dan berada di sebuah rumah sederhana.
Kue Rasidah yang mungkin terdengar
lumrah oleh beberapa kalangan saja. Kue yang memiliki tekstur kenyal, dengan warna putih bening serta paduan tak biasa, antara rasa manis yang dicampur oleh rasa bawang goreng diatasnya, sehingga memiliki keunikannya tersendiri.
Cemilan Melayu yang biasanya dimakan oleh Raja-Raja Melayu ini memiliki filosofi bahwa Kue Rasidah merupakan kue perdamaian karena memang tercipta untuk menyenangkan orang dan tidak membuat konflik.
Kue yang dibuat dengan perasaan sedih cukup lama yang dirasakan oleh Rasidah dalam waktu pembuatannya.
Namun, sangat disayangkan cerita tersebut belum pasti adanya karena literasi untuk sejarah tersebut sangat susah ditemukan dan tidak adanya orang-orang terdahulu sebagai saksi.
Tr : Annisa Alivia
Editor : Choirun Anisah Sabilah





















