Konflik Rusia di kawasan Laut Hitam dan Ukraina kerap dianggap sebagai persoalan politik masa kini. Padahal, akar persoalan ini sudah terbentuk sejak abad ke-18, pada masa pemerintahan Catherine the Great. Ia menjadi tokoh penting yang merumuskan arah geopolitik Rusia: mengamankan akses ke “air hangat”.
Bagi Rusia, laut bukan sekadar wilayah geografis, melainkan kebutuhan strategis. Tanpa pelabuhan yang dapat digunakan sepanjang tahun, aktivitas perdagangan dan militer akan terhambat. Inilah persoalan klasik Rusia yang terus berulang dari masa ke masa.
Pada abad ke-18, Rusia sebenarnya telah menjadi kekuatan darat yang luas, membentang dari Eropa Timur hingga Siberia. Namun, sebagian besar pelabuhannya membeku saat musim dingin. Pelabuhan di Baltik seperti Saint Petersburg sering tertutup es, sehingga mobilitas kapal menjadi terbatas.
Di sinilah konsep “warm water port” atau pelabuhan air hangat menjadi kunci. Sebagaimana dijelaskan dealerhandal.com, politik air hangat Rusia adalah upaya untuk mengamankan akses dan kontrol atas pelabuhan yang tidak membeku di musim dingin, sekaligus memperluas pengaruh geopolitik dan ekonomi melalui jalur laut yang bebas hambatan. Catherine menyadari bahwa tanpa akses seperti ini, Rusia tidak akan pernah menjadi kekuatan maritim sejati. Strateginya pun jelas: ekspansi ke selatan.
Catherine memahami bahwa tanpa akses laut yang tidak membeku, Rusia akan selalu tertinggal. Ia kemudian menjalankan strategi ekspansi ke selatan, menargetkan wilayah yang memiliki akses langsung ke laut hangat.
Melalui konflik dengan Kesultanan Ottoman, Rusia berhasil memperluas wilayahnya hingga ke kawasan Laut Hitam. Puncaknya adalah aneksasi Crimea pada 1783. Dari sini, Rusia memperoleh pelabuhan strategis seperti Sevastopol. Pelabuhan tersebut kemudian menjadi basis utama armada Laut Hitam dan memungkinkan Rusia tetap aktif di laut sepanjang tahun.
Menurut kajian dalam The Cambridge History of Russia, penguasaan Laut Hitam menandai perubahan besar bagi Rusia. Negara ini mulai bertransformasi dari kekuatan darat menjadi kekuatan regional dengan kemampuan maritim yang lebih kuat.
Pola geopolitik ini tidak berhenti di era Catherine. Hingga kini, Rusia masih mempertahankan kepentingannya di kawasan Laut Hitam. Wilayah seperti Ukraina dan Selat Bosporus tetap menjadi titik strategis karena menentukan akses Rusia ke laut lepas.
Dalam perspektif geopolitik modern, pemikiran Halford Mackinder menjelaskan bahwa kekuatan darat membutuhkan akses laut agar tidak terisolasi. Rusia menjadi contoh nyata dari teori tersebut, dan ambisi menuju “air hangat” kemungkinan akan terus menjadi bagian dari strateginya.
Tr: Rifky





















