Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Medan dalam beberapa hari terakhir mengganggu aktivitas mahasiswa sekaligus meningkatkan pengeluaran harian akibat sulitnya memperoleh bahan bakar, Selasa (14/7/2026).
Kondisi tersebut turut dirasakan mahasiswa yang menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas sehari-hari. Selain mengganggu mobilitas, kelangkaan BBM juga menyebabkan pengeluaran harian meningkat.
Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum semester VII, Annisa Maulidya, mengaku kelangkaan BBM berdampak langsung terhadap aktivitas magangnya.
“Pengaruh ke aku karena lagi magang dan biasanya naik motor ke tempat magang tiap hari. Pagi ini aku antre hampir satu jam di SPBU Jalan Gatot Subroto, akhirnya telat masuk kantor. Bensin juga lebih boros karena sering nyari-nyari SPBU yang masih ada stok,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga memengaruhi pengeluaran bulanan karena terpaksa membeli BBM dengan harga yang lebih tinggi.
“Ngerasa pengeluaran minggu ini naik karena terpaksa isi Pertamax yang lebih mahal,” ungkapnya.
Annisa berharap distribusi BBM dapat segera diperbaiki agar kejadian serupa tidak terus berulang dan masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.
“Jangka pendek, Pertamina harus pastikan stok selalu ada dan distribusi merata. Jangka panjang, pemerintah daerah bisa dorong transportasi umum yang lebih baik biar mahasiswa tidak terlalu bergantung motor. Plus, transparansi kuota BBM subsidi harus lebih ketat supaya tidak ada yang nakal,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya mahasiswa, agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan di tengah kondisi keterbatasan pasokan.
“Menurut saya yang penting jangan panic buying supaya antreannya tidak makin parah dan juga masyarakat lain bisa kebagian bensin,” tutupnya.
Tr: Yuda dan Ilham




















