Teropongdaily, Medan-Pengamat politik dan sosial Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar, menilai reformasi 1998 gagal mengubah watak dasar kekuasaan di Indonesia, Kamis (13/11/2025).
Shohibul menganggap bahwa perilaku yang dahulu dianggap otoriter, koruptif, dan manipulatif kini justru melekat pada hampir seluruh rezim pascareformasi.
“Mindset dan total behavior yang dulu kita cela sebagai simbol otoritarianisme dan keserakahan kini justru lebih kental, secara kualitas maupun kuantitas. Rezim berganti, tapi watak dasarnya seperti kekuasaan digunakan bukan untuk melayani, melainkan untuk mempertahankan dominasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, demokrasi Indonesia hanya mengalami perubahan prosedural tanpa disertai transformasi etika dan mentalitas politik.
“Institusionalisasi demokrasi memang terjadi ada pemilu, partai, dan kebebasan berbicara berlangsung tanpa transformasi mental dan etika politik. Demokrasi kita jatuh ke dalam transactional democracy,” jelasnya.
Shohibul menilai fenomena tersebut membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap janji perubahan karena politik justru menjadi ajang perebutan kepentingan.
“Akibatnya, rakyat tidak lagi percaya pada janji perubahan. Politik menjadi pasar bebas kepentingan,” ungkapnya.
Dari sisi hukum, Shohibul menyebut sistem keadilan kini lebih menyerupai panggung kekuasaan yang sarat kepentingan.
“Inilah saat di mana hukum berhenti menjadi panglima, dan justru menjadi pelayan para penguasa,” katanya.
Kemudian, Pengamat politik ini mengutip lirik lagu Ebiet G. Ade sebagai simbol keputusasaan rakyat terhadap sistem yang kehilangan legitimasi moral.
“Ketika rakyat tak lagi tahu kepada siapa harus bertanya, maka sistem politik, hukum, ekonomi, dan budaya telah kehilangan legitimasi moralnya. Kita hidup dalam kehampaan makna,” pungkasnya.
Tr: Salsabila Balqis & Delila Dira





















