Nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menyentuh Rp17.200 per dolar Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Kondisi ini mendapat sorotan dari Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Selasa (29/04/2025).
Dosen Ekonomi Pembangunan UMSU, Hastina Febriaty, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah saat ini melemah hingga mencapai Rp17.200 per dolar AS, yang merupakan nilai terendah sepanjang sejarah.
“Nilai rupiah saat ini anjlok hingga mencapai Rp17.200. Ini merupakan titik terendah sepanjang sejarah, sehingga menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap rupiah maupun kebijakan pemerintah. Kondisi ini juga berpotensi membuat para investor menarik dananya dari Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan harga barang impor yang dapat memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
“Anjloknya nilai rupiah mendorong kenaikan harga barang, terutama barang impor. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang berdampak pada meningkatnya biaya hidup dan melemahnya daya beli masyarakat,” jelasnya.
Sebagai solusi, Hastina mengusulkan pemerintah untuk memperkuat sektor-sektor domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Salah satu langkah yang bisa diambil pemerintah adalah melakukan diversifikasi ekonomi, seperti penguatan sektor jasa dan sektor-sektor lain yang memiliki nilai tambah. Ini penting untuk mendorong industri substitusi impor,” ungkapnya.
Ia berharap kestabilan nilai tukar rupiah dapat segera tercapai demi menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.
“Harapan saya, nilai rupiah ke depan bisa stabil kembali. Kestabilan rupiah akan berpengaruh terhadap stabilnya harga barang dan jasa, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” tutupnya.
Tr: Winda Saidah & Nabila Aullia






















