Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara juga berdampak langsung pada pedagang kecil yang tetap bertahan berjualan di lokasi, Selasa (26/08/2025).
Pedagang tahu isi, Irwan, yang sudah berjualan selama 15 tahun, mengaku terbiasa menghadapi situasi ricuh saat demo. Menurutnya, informasi mengenai aksi biasanya diperoleh dari sesama pedagang, mahasiswa, hingga aparat kepolisian.
“Informasi demo ini kami dapat dari sesama pedagang, juga berkoordinasi dengan mahasiswa dan pihak kepolisian. Ini tempat paling netral, posisi paling aman. Mau tidak mau kami harus turun ke keramaian walaupun ada risiko. Yang penting perut dulu, kan,” ujarnya.
Irwan menambahkan, keuntungan yang didapat jauh menurun karena pembeli enggan mendekat saat situasi mulai ricuh.
“Keuntungan hancur karena ricuh. Kami berharap ricuhnya nanti sore, rupanya belum apa-apa sudah ricuh,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengaku tetap berlapang dada dengan segala risiko.
“Sudah biasa, bahkan saya pernah menghadapi kondisi etalase sampai pecah. Itu sudah hukum dagang di tempat seperti ini. Dapat rezeki, tapi ada risiko. Dagangan, bahkan nyawa pun dipertaruhkan,” katanya.
Hal serupa juga dialami pedagang kopi, Riyan Fernandes, yang tetap membuka lapak saat demo berlangsung. Ia mengatakan, informasi adanya aksi diperoleh dari media sosial dan kabar teman.
“Informasi demo saya dapat dari Instagram dan kabar kawan-kawan. Keuntungan berkurang karena orang lebih fokus ke orasi. Tapi ya namanya harapan, mana tahu ada yang haus, butuh kopi biar makin semangat orasinya,” ungkapnya.
Riyan memastikan harga jual tetap normal, tanpa ada perbedaan dengan hari biasa. Terkait rasa takut, ia mengaku tetap waspada, terutama jika terjadi lempar-lemparan batu.
“Harganya tetap sama, tidak dibeda-bedakan, normal saja. Perasaan biasa saja, tapi ya manusiawi lah kalau ada rasa takut. Jaga diri saja, jangan ganggu orang lain,” pungkasnya.
Tr: Najwa & Dira






















