Teropongdaily, Medan-Setiap tiga jam, setidaknya satu perempuan di Indonesia mengalami kekerasan. Angka ini bukan sekadar statistik, ia adalah wajah ketidaksetaraan nyata, yang terus membayangi kehidupan perempuan dari Sabang hingga Merauke.
Feminisme hadir untuk melawan itu semua. Ia adalah perjuangan demi kehidupan yang setara, bukan hanya bagi laki-laki, tapi untuk seluruh manusia. Gerakan ini menggabungkan gagasan filosofis dan aksi nyata untuk membongkar ketidakadilan yang mengakar. Namun, meski banyak pencapai diraih, kesenjangan gender tetap bertahan.
Komnas Perempuan mencatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender pada 2024, meningkat menjadi 14,17% dari tahun sebelumnya. Bentuknya beragam: kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual di ruang publik, hingga femisida, yaitu pembunuhan perempuan yang dipicu kebencian dan pandangan misoginis. Artinya, setiap hari, ratusan perempuan menjadi korban hanya karena identitas gendernya.
Ketidaksetaraan juga menjalar ke ranah ekonomi dan sosial. Misalnya, di tempat kerja, perempuan masih menghadapi diskriminasi, kesenjangan upah, dan terbatasnya akses ke pendidikan serta layanan kesehatan reproduksi. World Economic Forum 2025 menempatkan Indonesia dengan skor 0,692 dalam Indeks Kesenjangan Gender, berada pada posisi rendah di Asia Tenggara, bahkan di bawah Filipina (0,791). Hal ini menandakan masih jauhnya jalan menuju kesetaraan.
Akar dari semua ini adalah patriarki yang mengakar kuat. Secara teori, feminisme sudah tegas: tak ada ruang bagi kekerasan dan diskriminasi. Namun dalam praktik, ia harus terus menyesuaikan diri dengan tantangan zaman yang berubah. Dari media sosial hingga ruang kerja, bentuk penindasan mungkin bergeser, tapi esensinya tetap sama.
Dikutip dari Bulaksumurugm.com, feminisme adalah sudut pandang baru yang menjadi titik cerah bagi perempuan menemukan keadilan. Namun, gerakan anti-feminisme masih lantang, menganggap perjuangan ini tak relevan. Padahal, patriarki sering bersekutu dengan kapitalisme, yang merugikan semua gender, misalnya melalui praktik upah murah. Tidak semua laki-laki patriarkis, dan tidak semua perempuan otomatis feminis; kesadaran harus dibangun, bukan diasumsikan.
Indonesia punya sejarah panjang feminisme, dari pemikiran R.A. Kartini hingga gerakan perempuan masa kini. Namun, tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai kebebasan. Selama ketidakadilan masih bernafas, feminisme akan selalu relevan dan perjuangan ini bukan hanya milik perempuan, tapi tanggung jawab seluruh manusia. Karena kesetaraan bukan hadiah, melainkan hak yang harus diperjuangkan bersama.
Tr : Intan Nur’aini






















