Teropongdaily, Medan- Candi Ratu Boko atau yang sering di kenal Kraton Ratu Boko terletak di 3km ke arah selatan dari Candi Prambanan yang terletak di Klaten, Jawa Tengah. Kawasan Ratu Boko berlokasi di atas sebuah bukit dengan ketinggian ±195.97m diatas permukaan laut.
Kraton Ratu Boko sebenarnya adalah reruntuhan dari sebuah kerajaan. Disebut Kraton Ratu Boko, karena menurut legenda itu ialah bangunan istana peninggalan dari Ratu Boko, ayah dari Rara Jonggrang.
Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, yang diduga kuat situs ini merupakan bekas Kraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Boko. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara (wihara di bukit yang bebas dari bahaya).
Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan yang disebut sebagai Abhayagiri Wihara dengan latar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut “tempat kremasi”. Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama “tempat kremasi” menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut.
Tr : Muthi’ Nur Hanifah
Editor : Andini Rizky





















