Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak dunia. Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) memperkirakan harga minyak mentah bahkan bisa melampaui US$200 per barel jika terjadi gangguan distribusi.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UMSU, Sri Endang Rahayu, S.E., M.Si., menilai potensi penutupan Selat Hormuz dapat berdampak luas terhadap perekonomian dunia. Jalur tersebut diketahui dilalui sekitar 20–30 persen pasokan minyak global setiap hari.
“Selat Hormuz adalah chokepoint (titik sempit) minyak terpenting di dunia, dengan sekitar 20–30% pasokan minyak dunia, atau lebih dari 20 juta barel per hari, melintasinya untuk menghubungkan produsen-produsen Teluk ke negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika Utara,” ujarnya, Rabu (04/03/2026).
Menurutnya, apabila terjadi gangguan distribusi, harga minyak mentah diperkirakan dapat melonjak signifikan akibat kepanikan pasar, bahkan berpotensi menembus di atas US$100 per barel.
“Jika terjadi penutupan Selat Hormuz, pasar energi global akan terguncang. Harga minyak mentah bisa melampaui US$100 hingga US$200 per barel. Kenaikan ini akan meningkatkan biaya logistik dan memperbesar risiko inflasi global,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan turut merasakan dampak langsung dari lonjakan harga tersebut.
“Indonesia akan mengalami tekanan APBN akibat subsidi energi meningkat, defisit neraca perdagangan energi yang melebar, serta meningkatnya inflasi domestik,” tambahnya.
Tr: Nashwa



















