Teropongdaily, Medan-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama World Organisation for Animal Health (WOAH) mengadakan Pelatihan Jurnalistik Sains untuk memperkenalkan isu Antimicrobial Resistance (AMR) di Ruang Gerbera, Hotel Four Points by Sheraton Medan, Rabu (04/06/2025).
Dalam rangka meningkatkan pemahaman jurnalis terhadap isu AMR, WOAH dan ReAct (Action on Antibiotic Resistance) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, serta AJI Medan menggelar pelatihan media bertajuk “Science Journalism Training to Mitigate Antimicrobial Resistance”.
Ketua Panitia Pelaksana, Tonggo Simangunsong dari AJI Medan, menjelaskan tujuan diadakannya kegiatan ini.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran publik dan mendorong pemerintah serta pemangku kepentingan terkait untuk memitigasi dampak AMR. Selain itu, dapat pula menjaga efektivitas antimikroba demi kesehatan manusia, hewan, dan keselamatan lingkungan,” jelasnya.
Tonggo juga menambahkan alasan melibatkan jurnalis dalam kegiatan ini.
“Untuk memperkenalkan isu AMR secara lebih luas kepada publik, pers memegang peranan penting. Jurnalis dapat menjadi mitra dalam meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong pelaporan investigatif terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan AMR. Namun, isu ini masih tergolong belum familiar di kalangan jurnalis,” tambahnya.
Salah satu peserta kegiatan, Fuji Astuti dari Blogger Medan, menyampaikan antusiasmenya dalam mengikuti pelatihan tersebut.
“Topiknya sangat bagus, terutama bagi orang awam seperti saya yang sebelumnya menganggap remeh isu resistensi ini. Ternyata, saya masih belum banyak tahu soal hal ini. Jadi, pelatihan ini sangat mengedukasi dan memberikan dampak, terutama agar kita lebih bijak dalam penggunaan antibiotik,” ungkapnya.
Terakhir, Fuji menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini.
“Harapan saya, kegiatan ini bisa berkelanjutan agar semakin banyak orang yang mengetahui isu ini. Jangan hanya sekali, karena kita perlu diingatkan terus. Kalau hanya sekali, kita bisa cepat lupa,” pungkasnya.
Tr: Novita Sari






















