Teropongdaily, Medan-Pemblokiran akses chatbot AI Grok milik platform X oleh pemerintah Indonesia dinilai sebagai langkah yang tepat menyusul maraknya isu penyalahgunaan teknologi deepfake. Indonesia disebut negara pertama yang mengambil langkah tegas dengan memutus akses layanan tersebut.
Dosen Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FIKTI), Ferdy Riza, ST, M.Kom, menilai kebijakan tersebut sah dilakukan karena dampak konten deepfake yang dihasilkan cukup serius.
“Kalau dilihat secara keseluruhan, sah-sah saja Indonesia melakukan pemblokiran. Isunya berat karena Grok ini open access, cukup sign in sudah bisa dipakai untuk edit gambar dan membuat konten, berbeda dengan platform lain yang harus berbayar,” ujarnya, Kamis (15/01/2026).
Ia menyebut keputusan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid Ansyah, sudah tepat karena disertai dengan permintaan perbaikan sebelum blokir dibuka kembali.
Ferdy menyebut perbaikan tersebut harus mencakup regulasi dan perlindungan khusus terhadap konten sensitif, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.
“Keputusan ibu menteri sudah tepat. Yang penting ke depan ada regulasi khusus dan perlindungan terhadap konten-konten seperti pornografi dan konten berbahaya lainnya,” katanya.
Terkait peran kampus, Ferdy menyampaikan bahwa pihak universitas telah mulai melakukan upaya edukasi, meski belum sepenuhnya menyeluruh.
“Edukasi menyeluruh mungkin belum, tapi sudah ada upaya dari kampus untuk memberikan pemahaman penggunaan AI di ranah legal,” ujarnya.
Ia juga menilai ancaman teknologi deepfake terhadap kehidupan sosial dan demokrasi di Indonesia sangat serius. Rendahnya literasi digital masyarakat membuat konten manipulatif mudah memicu konflik sosial.
“Ini sangat berbahaya. Masyarakat kita cenderung melihat sisi kontroversi daripada keaslian informasi. Deepfake sudah terbukti memicu tindakan anarkis dan konflik sosial,” pungkasnya.
Tr: Citra Ayu






















