Dua perwakilan lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menyampaikan alasan di balik keberhasilan mereka menyelesaikan studi dalam acara yudisium yang dihadiri pimpinan universitas dan fakultas, dosen, serta tenaga kependidikan di Auditorium UMSU.
Perwakilan pertama, Muhammad Azka Pohan, S.H. mengatakan empat tahun di kampus membentuk karakter, disiplin, dan integritas karena dijalani dengan beragam tantangan. Ada yang kuliah sambil bekerja, merantau jauh dari rumah, atau harus mengatur uang kos agar cukup sampai akhir bulan. Menurutnya, semua itu justru yang membuat mereka bertahan.
“Kita tumbuh bukan karena semuanya mudah, tapi karena kita memilih untuk tidak berhenti. Hari ini, kita tidak hanya meraih kelulusan, tapi juga mengucapkan selamat tinggal pada masa yang dulu ingin kita percepat, namun justru ingin kita ulang kembali,” ujarnya, Sabtu (24/10/2026).
Ia menyebut keberhasilan itu bukan semata hasil kerja keras mahasiswa. Orang tua rela bekerja siang dan malam demi anaknya bisa kuliah. Mereka menahan lelah dan bahkan berutang. Doa mereka pun tidak pernah putus.
“Hari ini, kami berada di akhir ujung cerita ini bukan karena semata kehebatan kami, tapi karena ada cinta yang tak terlihat serta doa yang tak pernah putus saat rasa kami ingin menyerah,” katanya.
Ia menutup sambutan dengan mengutip pesan Ali bin Abi Thalib, bahwa akal dan pendidikan adalah bekal terbaik untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.
Perwakilan kedua, Dela Sakya Manik, S.H, menilai kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu. Kampus juga menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan memperluas wawasan. Ia menyampaikan apresiasi atas arah pengembangan kampus yang terus memperluas reputasi internasional dan mewujudkan kampus digital berskala dunia.
Ia juga mengapresiasi upaya Fakultas Hukum memperkuat kualitas pendidikan hukum. Upaya itu meliputi persiapan akreditasi, pengembangan klinik hukum di berbagai pengadilan, dan kerja sama dengan institusi penegak hukum. Salah satunya dengan Kejaksaan Negeri Medan. Menurutnya, langkah tersebut penting karena mendekatkan mahasiswa pada praktik hukum yang sesungguhnya.
“Bagi kami, kerja sama antara perguruan tinggi dan institusi penegak hukum merupakan bagian penting dalam mendekatkan dunia akademik dengan praktik hukum yang sesungguhnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kelulusan bukan garis akhir. Lulusan dituntut menjaga nama baik almamater dan berperan di masyarakat.
“Yudisium dan wisuda bukanlah akhir, melainkan gerbang awal perjuangan yang sesungguhnya. Mari kita jaga nama baik almamater dan menjadi agen perubahan di mana pun kita berada,” tuturnya.
Ia menutup pesannya dengan mengutip Sutan Sjahrir dalam pamflet Perjuangan Kita bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.
Tr : maya





















