Di relung asa yang memeluk jelaga,
ada murka yang diam-diam menjelma jadi doa yang paling lelah.
Aku memilin sumpah.
menagih padamu, pada janji yang terlanjur runtuh dan menjadi abu.
Perlahan aku mengeja benci, benci, benci.
Tapi jujur, bagaimana bisa kurawat luka yang terus melepuh ini?
Sebab di antara retakan amarah dan sisa asap yang mengepul.
namamu selalu punya cara paling lancang untuk menyelusip.
minta dipeluk oleh ingatan yang bahkan belum sempat sembuh.
Aku mengutuk jarak yang kian membatu.
Namun, jauh di dalam diri, aku paling murka pada nadiku sendiri.
Sebab di tengah badai kesumat yang paling pekat,
ia masih saja lancang berdenyut
hanya untuk menanti takdir yang mungkin tak akan pernah membawamu pulang.

















