Halo Sobat Pong-Pong!
Tahukah kamu? Agile Organization (Organisasi Tangkas) adalah pola pikir manajemen modern yang menolak hierarki kaku dan budaya “Asal Bapak Senang” (ABS). Konsep ini hadir sebagai respon terhadap birokrasi tradisional yang sering mematikan inovasi karena anggota tim takut menyampaikan kritik jujur atau melakukan kesalahan.
Siklus organisasi kaku (non-agile) sering membuat anggota terjebak dalam Analysis Paralysis dan ketakutan akan otoritas, sehingga mereka lebih memilih diam daripada mengambil inisiatif. Pada akhirnya, kondisi ini menciptakan “kesibukan semu”—rapat berjam-jam tanpa hasil nyata—dan menurunkan daya adaptasi organisasi terhadap perubahan zaman.
Dikutip dari laporan riset McKinsey & Company (2018) dalam “The Five Trademarks of Agile Organizations”, Wouter Aghina dan tim menyebutkan bahwa organisasi masa depan harus memiliki keseimbangan paradoksal.
“Organisasi Agile menguasai paradoks: mereka memiliki tulang punggung struktur yang stabil, namun di saat yang sama memiliki kemampuan dinamis untuk beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan baru. Stabilitas memberikan kejelasan tujuan, sementara dinamika memungkinkan tim untuk bergerak lincah tanpa terhambat birokrasi yang lambat,” tulis laporan tersebut.



Tr: Aidil Daffa





















