Teropongdaily, Medan-Indonesia menghadapi lonjakan cuaca ekstrem selama beberapa pekan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan serius akibat meningkatnya hujan lebat, angin kencang, banjir, serta pergerakan tanah di berbagai wilayah.
Pada awal November 2025, BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang dipicu dinamika atmosfer global hingga lokal, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby. Fenomena ini meningkatkan curah hujan dan ketidakstabilan atmosfer, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
BNPB mencatat sedikitnya delapan kejadian bencana pada 19 November, termasuk pergerakan tanah di Cilacap yang mengancam puluhan kepala keluarga. Angin kencang pada 18 November juga merusak rumah warga dan menumbangkan pohon, menyebabkan satu orang luka ringan.
Banjir turut melanda Tangerang Selatan, Banten, dengan 11 kelurahan terdampak dan lebih dari 1.100 kepala keluarga terendam. Di Ciamis, Jawa Barat, retakan tanah akibat hujan tinggi membuat 11 KK atau 35 jiwa terpaksa mengungsi.
Pada 24–25 November, banjir di Kebumen berdampak pada 4.695 jiwa dan merusak sejumlah fasilitas, termasuk pondok pesantren. Di Pasuruan, Jawa Timur, tanggul Sungai Welang jebol setelah hujan deras dan menyebabkan kerusakan infrastruktur.
Angin kencang juga melanda Sinjai, Sulawesi Selatan, yang merusak rumah warga dan menumbangkan pohon. Total 16 Kartu Keluarga (KK) mengalami kerusakan ringan pada bangunan. Sementara itu, pada 15 November, BNPB melaporkan dua rumah roboh akibat pergerakan tanah.
Selain faktor atmosfer, kondisi geologi yang labil turut memperparah risiko longsor dan pergerakan tanah. BMKG menegaskan bahwa fenomena atmosfer aktif memperkuat intensitas cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengimbau warga untuk memantau prakiraan cuaca, menyiapkan langkah evakuasi, dan tetap siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Beberapa daerah, seperti Kebumen, telah menetapkan status siaga darurat hingga Mei 2026.
BNPB menekankan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat mitigasi serta meminimalkan dampak dari peristiwa cuaca ekstrem yang terus meningkat.
Tr: Widia Ningsih
Sumber: kibrispdr.org






















