Teropongonline – Medan, Rabu Diskusi Anak Komunikasi (Radiasi) merupakan program mingguan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Hmj Iko) yang sudah berjalan memasuki minggu kedua dalam pelaksanaanya, dengan tema Nasib Industri Perfilman Daerah. Program Radiasi minggu ini diisi oleh Concept Kreative Film Cipta Kusuma yang dilaksanakan di labolatorium penyiaran Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, pada Rabu, (16/01/19).
Program mingguan yang dilaksanakan oleh HMJ IKO FISIP UMSU kali ini mengangkat tema perihal nasib industri perfilman daerah. Cipta Kusuma mengaku perfilman daerah terkhusus di daerah kota medan ini tidak memiliki wadah untuk menyalurkan karya-karyanya.”Industri perfilman daerah sulit berkembang karena tidak tersedia wadah untuk menyalurkan karya kita. Pemerintah juga tidak mendukung dan mengapresiasi setiap karya-karya anak daerah,”jelasnya
Ia juga menjelaskan di daerah kita sendiri terkhusus di kota Medan baik pihak pemerintah maupun swasta tidak mengapresiasi dan menyediakan wadah bagi para pekerja seni industri perfilman daerah untuk menyalurkan karya-karyanya sehingga industri perfilman daerah tidak akan maju. Berbeda dengan kota lain salah satunya Yogyakarta  yang sangat mendukung industri perfilman daerahnya.Â
“Kita tidak punya wadah bahkan tidak ada apresiasi. Yogyakarta penuh apresiasi terhadap para pekerja seni industri perfilman, mereka bahkan datang untuk nonton pertunjukan perfilman daerah disana,”ujar pemuda berusia 26 tahun ini.
Selain itu lelaki yang akrab disapa Tata ini juga telah menangani beberapa video komersil (Iklan) yang telah beredar.Video komersil pertama yang ditangani oleh Cipta adalah video komersil dari salah satu brand sabun pencuci piring ternama. “Pada kesempataan itu Cipta mengaku hal tersebut bermula saat salah satu pekerja industri perfilman yang akrab disapa mas Bowie selaku leader conceptor tersebut memberikan tantangan kepada Cipta untuk mengerjakan video komersil tersebut. Iklan mama lemon adalah project pertama saya berawal dari sebuah tantangan dari mas bowie yang diamanahkan kepada saya,”jelasnya.
Tata mengaku lebih banyak bergelut di media komersil (Iklan). Ia pun menjelaskan bagaimana pengalamannya selama terjun di media komersil tersebut. Tata yang lebih banyak bergelut sebagai skrip writer dalam dunia media komersil ini juga menjelaskan skrip dalam media komersil  setiap detiknya adalah sebuah cerita. Dalam setiap gerak juga harus bermakna karena di media komersil detik tiap detik adalah sebuah media untuk memperkenalkan produk tersebut.
“Skrip dalam iklan setiap detik adalah cerita. Setiap gerakan harus bermakna,”tuturnya.
Lanjutnya, ia juga menuturkan dalam media komersial (iklan) Â agar membungkus konsep dalam media ini sehingga dapat menjadikan benda mati dapat terlihat bernyawa, dan menjadi lebih realistis. “Tips iklan buatlah benda mati menjadi bernyawa serta realistis. Saya mengerjakan sesuai dengan permintaan,”jelasnya berdasarkan pengalaman yang ditekuni.
Reporter : Clara Wirianda
Editor: Ummu Amnah



















