Teropongdaily, Medan-Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teropong Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), adakan seminar membahas kebebasan berekspresi di era digital, seiring dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, di Auditorium UMSU, Sabtu (26/10/2024).
Seminar kali ini menghadirkan tiga narasumber yang berkecimpung di bidang media, yaitu Anggia dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Rizal, seorang jurnalis senior, dan Jovial, seorang konten kreator terkenal.
Dengan mengusung tema ‘Kebebasan Berekspresi di Era Digital dan Dampak RUU Penyiaran bagi Jurnalis serta Konten Kreator’. Seminar ini bertujuan untuk membahas peran dan tantangan yang dihadapi generasi muda dalam menyuarakan pendapat di era digital.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara (Sumut) Anggia Ramadhan, menyampaikan meskipun KPI kerap dianggap sebagai lembaga kontroversial, ia berharap KPI dapat terus berkembang menjadi lembaga yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Anggia, KPI mengalami dilema antara menjaga kebebasan media dan menghormati hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkualitas.
“KPI menghadapi dilema antara menjaga kebebasan media dan menghormati hak publik untuk mendapatkan informasi berkualitas. Kami bekerja bersama pemerintah, media, dan konten kreator agar kebebasan berekspresi dan hak-hak publik bisa berjalan selaras,” sampainya.
Anggia juga berpesan kepada para peserta untuk menjadi generasi yang menguasai teknologi dan informasi.
“Kalau ingin menjadi orang hebat, kalian harus bisa menguasai informasi dan teknologi. Ini adalah era di mana generasi muda punya kesempatan besar untuk berkontribusi demi Indonesia emas 2045,” tambahnya.
Wakil Pimpinan Harian Analisa Rizal Rudi, menyoroti RUU Penyiaran yang berpotensi mengurangi kewenangan jurnalis untuk melakukan investigasi. Ia menegaskan pentingnya investigasi bagi jurnalis sebagai identitas mereka.
“Investigasi adalah marwah jurnalis. Tanpa itu, tidak akan ada yang bisa mengungkap kasus-kasus besar yang menyangkut kepentingan publik,” tegas Rizal.
Rizal juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa jika investigasi dibatasi, fungsi media sebagai pengawas sosial akan hilang. Ia berharap generasi muda bisa memahami pentingnya peran jurnalis dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas di masyarakat.
Jovial Da Lopez selaku Youtuber dan konten kreator, yang dikenal dengan konten edukatifnya, menambahkan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi konten kreator di era digital.
“Kami berusaha membuat konten yang seimbang dan objektif, seperti format Epic Rap Battle yang menghadirkan dua sisi dalam setiap perdebatan politik. Tujuannya bukan menggiring opini, tetapi memancing diskusi,” jelasnya.
Menurut Jovial, Gen Z memiliki cara unik dalam mengonsumsi informasi, sehingga ia mendorong konten kreator untuk menyampaikan konten yang tajam dan edukatif.
“Jika ingin membuat konten, jangan hanya mengejar views. Jadikan konten sebagai media yang punya muatan positif dan mengedukasi,” katanya.
Tr : Khofifah Aderti, Oziva






















