Teropongdaily, Medan-Aksi Kamisan digelar sebagai respons atas kekerasan terhadap perempuan dan meningkatnya kasus femisida di Indonesia. Aksi ini berlangsung di Tugu Kilometer Nol, Posbloc Medan.
Dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, kegiatan ini menjadi bentuk perlawanan dari perempuan-perempuan dan komunitas kolektif yang berupaya menyuarakan isu untuk memperoleh keadilan bagi para korban femisida.
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan, Nikita menjelaskan rangkaian kegiatan mereka yang berlangsung di depan Posbloc Medan.
“Kami memilih Posbloc ini karena dianggap sebagai tempat yang paling ramai dilalui oleh masyarakat. Kami berharap dengan berdirinya kami di sini, masyarakat dapat melihat bagaimana tingkat kejahatan femisida sudah sangat meresahkan di kalangan masyarakat,” ungkapnya kepada Teropong Kamis, (06/12/2024) lalu.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama dari Aksi Kamisan ini adalah sebagai wujud perlawanan sekaligus upaya menyuarakan isu penting untuk didengar oleh lebih banyak orang.
“Jadi, aksi ini adalah bentuk menyuarakan dan memberi tahu banyak orang bahwa kasus femisida sekarang banyak terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari,” tambahnya.
Nikita juga menyampaikan bahwa aksi serupa dilakukan di berbagai kota besar di Indonesia.
“Menurut pengetahuanku, aksi-aksi seperti ini dilakukan di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Malang, dan banyak lagi. Alhamdulillah, rangkaian ini banyak mendapatkan respons positif dari masyarakat, terutama dari kalangan perempuan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nikita mengungkapkan harapannya agar instansi pemerintah dan masyarakat bersama-sama membangun kesadaran kolektif di Kota Medan.
“Kami mendorong adanya kebijakan pemerintah yang berpihak dan membahas secara lebih detail kasus femisida, sehingga tidak salah menempatkan kebijakan hukum yang diberikan. Harapannya, tidak ada lagi kasus-kasus yang membebaskan para pelaku, sementara korban, keluarga korban, dan masyarakat luas menuntut agar keadilan berpihak kepada korban. Dengan begitu, tidak ada lagi korban yang dikorbankan kembali,” tutupnya.
Tr: Anggi Nayla Putri, Muhammad Wira Aulia
Editor: Salsabila Balqis





















