Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menyoroti pentingnya penguatan kurikulum Outcome Based Education (OBE) melalui mata kuliah Kepramukaan, Jumat (21/11/2025).
Ahmad Riady Hasibuan, S.Pd., M.Pd., dosen FKIP UMSU, mengungkapkan bahwa Pramuka bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang integral.
“Pramuka bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler seperti dulu, tetapi dalam Kepramukaan terdapat pendidikan karakter yang integral dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Pada kurikulum sebelumnya, Kepramukaan hanya menjadi muatan keterampilan tambahan. Namun pada kurikulum OBE, pembelajaran harus menghasilkan outcome nyata,” ungkapnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa pelaksanaan mata kuliah Kepramukaan di PGSD memadukan teori dan praktik, dengan porsi yang lebih besar pada kegiatan lapangan.
“Pelaksanaan mata kuliah Kepramukaan di PGSD memadukan teori dan praktik, dengan porsi lebih besar pada kegiatan lapangan. Misalnya latihan tali-temali, baris-berbaris, membuat proyek kegiatan, hingga mengikuti KMD (Kursus Mahir Dasar). Jadi, kegiatan lebih menekankan pada pengalaman langsung dan penerapan nilai-nilai kepramukaan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam pengajaran mata kuliah ini adalah minimnya pemahaman mahasiswa mengenai kepramukaan.
“Tantangan terbesarnya adalah mengajarkan Kepramukaan kepada mahasiswa yang masih minim pengetahuan tentang kepramukaan. Sebagian mahasiswa masih menganggap Kepramukaan hanya sebatas kegiatan seremonial. Padahal dalam kurikulum OBE, dosen harus memastikan mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi nyata, seperti memimpin kegiatan atau membuat rancangan pembelajaran yang inovatif dan edukatif,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, mahasiswa FKIP UMSU, Ella Puspita Sari, menuturkan bahwa kegiatan praktik lapangan menjadi pengalaman paling berkesan selama mengikuti mata kuliah tersebut.
“Praktik lapangan seperti latihan baris-berbaris, penjelajahan, atau membuat proyek pioneering sederhana sangat berkesan. Dari kegiatan itu saya belajar bekerja dalam tim, mengambil keputusan cepat, dan mempraktikkan keterampilan yang tidak hanya bersifat teoritis. Pengalaman tersebut penting karena memberi saya rasa percaya diri dan pemahaman nyata tentang bagaimana membina peserta didik melalui aktivitas yang menyenangkan namun tetap edukatif,” pungkasnya.






















