Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengimbau masyarakat untuk menanam lima pot cabai di rumah sebagai langkah mendukung ketahanan pangan nasional. Imbauan tersebut mendapat tanggapan dari akademisi pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rabu (30/04/2025).
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UMSU, Dr. Akbar Habib, S.P., M.P., menyebut bahwa seruan tersebut sah-sah saja jika dilihat dari perspektif ketahanan pangan rumah tangga.
“Kalau dalam konsep ketahanan pangan, upaya masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, meskipun sederhana seperti menanam cabai di rumah, adalah langkah yang baik,” ujarnya.
Menurutnya, cabai termasuk tanaman hortikultura yang fleksibel dan dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah, sehingga cocok ditanam di lingkungan rumah.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak serta merta mampu menurunkan harga cabai di pasar secara signifikan.
“Kalau tujuannya untuk menekan harga secara makro, saya rasa belum sampai ke sana,” jelasnya.
Ia menilai kebijakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai strategi ketahanan pangan berbasis rumah tangga, bukan solusi instan atas fluktuasi harga pasar. Ia juga menyoroti bahwa tidak semua masyarakat memiliki keterampilan atau ketertarikan untuk bercocok tanam.
“Bahkan di kalangan mahasiswa pertanian pun, belum tentu semua mampu menanam cabai dengan sukses,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perbaikan dalam rantai distribusi dan manajemen pascapanen untuk menjaga stabilitas harga cabai. Menurutnya, terlalu banyak perantara menyebabkan harga tidak terkendali dan petani kehilangan daya tawar.
“Sudah lama political will terhadap pertanian ini lemah. Jika saat ini Presiden ingin menghidupkan kembali perhatian terhadap pertanian, maka semua lembaga yang berwenang harus aktif berperan,” tutupnya.
Tr: Gustriani Ningsih
Sumber Foto : Detikcom






















