Teropongdaily, Medan-Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menilai penangkapan Presiden Venezuela berpotensi memicu ketidakpastian global, terutama terhadap harga minyak dunia, meski dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dinilai tidak langsung.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, di Caracas.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMSU, Sri Endang Rahayu, S.E., M.Si., menyampaikan keprihatinannya atas tindakan tersebut dan menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.
“Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Hampir seperlima cadangan minyak dunia dimiliki oleh Venezuela. Pemerintah harus terus memantau perkembangan harga minyak bumi. Sejauh ini, harga minyak masih relatif stabil. Namun, konflik seperti ini tetap harus diwaspadai karena Venezuela memegang peran strategis dalam pasar energi global,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (06/01/2026).
Ia menjelaskan bahwa penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat tidak berdampak langsung terhadap perekonomian dan perdagangan internasional Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kecilnya hubungan dagang antara Indonesia dan Venezuela.
“Venezuela merupakan negara tujuan ekspor ke-98 dan negara asal impor ke-105 bagi Indonesia. Dengan demikian, tidak banyak pengaruhnya terhadap ekspor, impor, maupun pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak tidak langsung tetap perlu diantisipasi. Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, sementara Indonesia masih bergantung pada impor minyak.
“Jika harga minyak dunia naik, maka akan berdampak pada kenaikan inflasi. Kenaikan biaya transportasi dan logistik juga akan menambah beban subsidi energi pemerintah. Intinya, dampaknya bukan pada hubungan langsung, melainkan pada perubahan harga global,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan pemerintah Indonesia untuk menyiapkan kebijakan ekonomi strategis. Di antaranya dengan memperkuat ketahanan fiskal dan energi guna menghadapi ketidakpastian global, memantau stabilitas pasar keuangan melalui penguatan nilai tukar rupiah dan pengawasan pasar modal, serta mengembangkan perdagangan dan industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing ekspor.
“Dengan langkah-langkah antisipatif tersebut, Indonesia diharapkan mampu meredam dampak tidak langsung dari konflik AS Venezuela dan tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional,” pungkasnya.
Tr: Dwy Amanda





















