Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melaksanakan kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di Desa Sekoci, Kabupaten Langkat, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat, Minggu (22/02/2026).
Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Puskesmas Besitang guna memperkuat layanan kesehatan primer berbasis kolaborasi. Ketua program, Raja Firdaus, menjelaskan bahwa konsep kegiatan difokuskan pada sinergi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan kader posyandu setempat.
“Konsep kami adalah bekerja sama dengan Puskesmas Besitang. Kami sebagai mahasiswa FKIK UMSU membantu dalam administrasi pendataan pasien, pemeriksaan tekanan darah, serta melakukan anamnesis singkat,” ujar Raja.
Dalam pelaksanaannya, Posyandu ILP mengintegrasikan berbagai layanan kesehatan berbasis siklus hidup. Tidak hanya untuk balita, kegiatan ini juga menyasar kelompok usia dewasa dan lanjut usia melalui skrining penyakit tidak menular.
“Kami melakukan layanan kesehatan komprehensif berdasarkan siklus hidup, edukasi kesehatan, serta skrining penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi,” tambahnya.
Keterlibatan kader posyandu dan masyarakat setempat dinilai menjadi kunci keberhasilan kegiatan.
“Keterlibatan kader dan masyarakat sangat membantu kami. Kolaborasi ini meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan primer dan memperkuat pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan,” jelas Raja.
Raja menilai, dampak pelaksanaan Posyandu ILP mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola makan sehat dan deteksi dini penyakit.
“Secara keseluruhan, Posyandu ILP meningkatkan literasi kesehatan, cakupan skrining, serta keterhubungan masyarakat dengan layanan kesehatan secara lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua tim FKIK UMSU, Hunairah Medina Liza Lubis, menyampaikan bahwa indikator keberhasilan kegiatan lapangan diukur dari keterlaksanaan program sesuai rencana.
“Indikator keberhasilan yang kami harapkan adalah seluruh program terlaksana dengan baik dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan pascabanjir yang dihadapi masyarakat Desa Sekoci, mulai dari lahan pertanian yang rusak hingga kebutuhan mitigasi bencana dan trauma healing.
“Tantangan terbesar berkaitan dengan kondisi desa pascabanjir. Mahasiswa harus bekerja keras mengolah lahan agar bisa kembali ditanami, sekaligus menjalankan program mitigasi bencana dan trauma healing,” jelasnya.
terakhir, Dalam menjaga profesionalisme, mahasiswa selalu didampingi dosen serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat saat memberikan layanan.
“Untuk posko kesehatan, mahasiswa selalu didampingi tim dosen FKIK dan bekerja sama dengan tim kesehatan Puskesmas Besitang saat Integrasi Layanan Primer, sehingga profesionalisme dan etika tetap terjaga,” tutupnya.
Tr: winsi




















