Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara kembali menggelar rukyatul hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kampus Pascasarjana UMSU, Medan, Selasa (17/02/2026).
Wali Kota Medan, Riko Tri Putra Bayu Waas, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan adanya potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan tahun ini.
“Mungkin tadi sebenarnya sudah lengkap disampaikan oleh para narasumber. Intinya ada potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan. Namun kami dari Pemerintah Kota Medan mengimbau, apa pun perbedaannya, tidak menjadi perdebatan. Laksanakan saja puasa sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat diharapkan tetap saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan metode penetapan awal Ramadan. Menurutnya, hal terpenting adalah menjaga kualitas ibadah puasa selama bulan suci.
“Yang penting adalah menjaga kualitas puasa kita di dalam bulan Ramadan ini,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Tim Hisab Rukyat menjelaskan secara teknis posisi hilal di Kota Medan. Setelah matahari terbenam pada pukul 18.39 WIB, posisi hilal tercatat berada pada minus satu derajat sehingga dipastikan tidak mungkin terlihat.
“Secara hisab tentu dipastikan bahwa malam hari ini untuk Kementerian Agama atau pemerintah belum masuk tanggal satu Ramadhan, tetapi lusa menjadi tanggal 19,” jelasnya.
Namun demikian, untuk Muhammadiyah, penetapan awal Ramadan menggunakan parameter global. Kriteria ketinggian hilal lima derajat telah terpenuhi di wilayah Alaska, Amerika Serikat, sehingga menjadi dasar penetapan awal Ramadan.
“Karena sudah menggunakan parameter global, ketinggian hilal 5 derajat itu sudah terpenuhi di Alaska, maka itu menjadi panduan sehingga malam hari ini sudah masuk tanggal satu. Jadi Muhammadiyah tanggal 18, pemerintah tanggal 19,” terangnya.
Meski demikian, pemantauan hilal tetap akan dilakukan kembali untuk memastikan perkembangan posisi hilal di wilayah Medan.





















