Teropongdaily, Medan-Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dr. Eka Febrianti, menyoroti kondisi pemenuhan gizi masyarakat pasca banjir yang masih terhambat, sehingga berpotensi memicu masalah kesehatan serius pada kelompok rentan, Kamis (11/12/2025).
Dalam penjelasannya, dr. Eka menyebutkan bahwa keterbatasan akses pangan membuat sebagian warga masih kesulitan mendapatkan makanan bergizi.
“Karena kondisi banjir, pemenuhan gizi tentu sangat terbatas. Masih banyak makanan yang kurang bahkan ada yang belum mendapatkannya sama sekali. Bantuan pangan harus merata, tidak hanya menumpuk di posko tertentu saja,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsumsi makanan instan dalam jumlah berlebihan juga menimbulkan risiko kesehatan jangka pendek.
“Makanan instan sebenarnya tidak masalah kalau tidak berlebihan. Tapi kalau terus-menerus seperti mi instan yang tinggi garam, bisa memicu gangguan lambung atau hipertensi. Selain itu, proses pengolahan di kondisi banjir terbatas, sehingga risiko diare juga meningkat,” ujarnya.
dr. Eka menegaskan bahwa kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, lansia, dan ibu hamil adalah kelompok yang paling membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan gizi selama bencana.
“Kelompok rentan itu sangat berisiko mengalami malnutrisi. Itu bisa menjadi faktor terjadinya stunting jika berlangsung kronis. Pada ibu hamil, kekurangan gizi bahkan bisa menyebabkan kelahiran prematur,” ungkapnya.
Terakhir, dr. Eka menjelaskan bahwa penanganan pemenuhan gizi perlu dibagi dalam dua fase.
“Yang paling dibutuhkan masyarakat adalah makanan bergizi siap saji yang benar-benar merata untuk semua, baik yang di posko maupun yang di luar posko. Bantuan tidak boleh insidental, tapi harus teratur,” tutupnya.
Tr: Anggi Nihma & Delila Dira






















